Industri hewan peliharaan terus tumbuh, tapi tuntutan konsumen terhadap produk dan layanan yang lebih ramah lingkungan juga makin tinggi.
Webinar ini membahas praktik berkelanjutan (sustainable practices) di industri pet, mulai dari tantangan penerapan, peluang inovasi, hingga arah masa depan bisnis pet yang lebih bertanggung jawab.
Topic: Sustainable Practices in the Pet Industry: Challenges and Opportunities
Speakers:
• Dr. Hastuti Naibaho, MSi — Magister Management Lecturer, Universitas Ciputra
• Juda T. Adisusanto, M.M. — CEO Groovy Pet Center
What you’ll learn:
Tantangan utama sustainability di pet industry
Peluang inovasi & strategi bisnis yang lebih responsible
Insight praktis untuk pelaku usaha, profesional, dan pet enthusiasts
Surabaya — Industri hewan peliharaan di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Fenomena ini tidak hanya terlihat dari meningkatnya jumlah pemilik hewan peliharaan, tetapi juga dari perubahan cara masyarakat memandang hewan sebagai bagian dari keluarga. Menjawab tren tersebut, webinar bertajuk “Sustainable Practices in the Pet Industry: Challenges and Opportunities” hadir untuk membahas bagaimana pelaku industri pet dapat mengembangkan bisnis yang lebih berkelanjutan, bertanggung jawab, dan relevan dengan kebutuhan konsumen modern.
Webinar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Hastuti Naibaho, M.Si, dosen Magister Management Universitas Ciputra, serta Juda T. Adisusanto, M.M., CEO Groovy Pet Center. Melalui sudut pandang akademis dan praktis, keduanya membahas perkembangan industri pet dari sisi perilaku konsumen, peluang bisnis, tantangan sustainability, hingga strategi yang dapat diterapkan oleh pelaku usaha lokal.
Dalam pemaparannya, Dr. Hastuti Naibaho menjelaskan bahwa industri pet care di Indonesia telah memasuki era baru yang disebut sebagai ekonomi “anabul”. Pasar ini tidak lagi dipandang sebagai industri sekunder, melainkan sebagai sektor dengan potensi ekonomi yang besar. Berdasarkan materi yang disampaikan, nilai pasar makanan hewan di Indonesia diproyeksikan mencapai USD 1,87 miliar pada 2025 dan terus meningkat hingga USD 3,67 miliar pada 2030, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan mencapai 14,45% pada periode 2025–2030.
Pertumbuhan ini juga dipengaruhi oleh transformasi gaya hidup masyarakat urban. Hewan peliharaan tidak lagi hanya dipandang sebagai “pet”, tetapi telah menjadi companion atau bagian dari keluarga. Dalam materi webinar, fenomena ini dijelaskan melalui pendekatan antropomorfisme, yaitu kecenderungan pemilik untuk memberikan atribut, emosi, dan karakteristik manusia kepada hewan peliharaannya. Perubahan cara pandang ini membuat keputusan pembelian tidak lagi hanya didorong oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga oleh ikatan emosional, identitas sosial, dan keinginan memberikan yang terbaik untuk hewan peliharaan.
Webinar ini juga membahas bagaimana media sosial dan komunitas digital ikut mempercepat perubahan perilaku konsumen. Pemilik hewan kini semakin sering membagikan momen bersama peliharaannya, mencari rekomendasi produk, mengikuti tren grooming, hingga terlibat dalam komunitas pecinta hewan. Komunitas seperti cat lovers, komunitas anjing ras tertentu, hingga pet influencer menjadi bagian penting dalam membentuk standar baru konsumsi di industri pet.
Dari sisi bisnis, tren ini melahirkan peluang besar untuk produk dan layanan premium. Pemilik hewan semakin bersedia mengeluarkan dana lebih untuk makanan khusus, produk organik, suplemen, aksesori personalisasi, grooming premium, spa hewan, hotel penitipan, hingga layanan yang lebih pet-friendly. Namun, peluang ini juga membawa tantangan baru, terutama terkait keberlanjutan dan kesejahteraan hewan.
Salah satu pesan penting dalam webinar ini adalah bahwa sustainability di industri pet tidak hanya berbicara tentang produk ramah lingkungan, tetapi juga tentang praktik bisnis yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumen, kesejahteraan hewan, dan tanggung jawab sosial. Pelaku usaha perlu memastikan bahwa strategi pemasaran emosional tidak membuat kebutuhan biologis hewan terabaikan. Karena itu, pendekatan edukatif menjadi penting agar pemilik hewan tidak hanya membeli karena tren, tetapi juga memahami manfaat dan dampaknya bagi kesehatan hewan.
Dalam konteks persaingan, webinar ini menyoroti tantangan bagi pelaku usaha lokal yang harus bersaing dengan perusahaan multinasional. Meski pasar masih didominasi oleh brand global, bisnis lokal tetap memiliki peluang besar melalui pendekatan yang lebih personal, dekat dengan komunitas, dan memahami psikologi konsumen Indonesia. Strategi seperti emotional storytelling-based marketing, kolaborasi dengan komunitas, kerja sama dengan pet influencer lokal, serta word-of-mouth dinilai dapat menjadi kekuatan utama bagi brand lokal.
Juda T. Adisusanto sebagai praktisi industri turut memberikan perspektif bahwa pelaku usaha pet care perlu lebih adaptif terhadap kebutuhan konsumen masa kini. Konsumen tidak hanya mencari produk atau layanan yang bagus, tetapi juga brand yang memiliki nilai, kepedulian, dan komitmen terhadap kesejahteraan hewan. Di sinilah sustainability menjadi diferensiasi penting bagi bisnis pet modern.
Webinar ini menegaskan bahwa masa depan industri pet Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan pasar, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam membangun ekosistem yang lebih inklusif dan bertanggung jawab. Inovasi produk, kolaborasi komunitas, edukasi konsumen, serta komitmen terhadap animal welfare menjadi fondasi penting dalam menciptakan industri pet yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Melalui webinar “Sustainable Practices in the Pet Industry: Challenges and Opportunities”, peserta mendapatkan wawasan bahwa industri pet bukan sekadar bisnis berbasis tren, tetapi bagian dari transformasi sosial-ekonomi yang lebih luas. Dengan memahami kebutuhan emosional, estetis, dan simbolis konsumen modern, serta tetap menjaga prinsip keberlanjutan dan kesejahteraan hewan, pelaku usaha lokal Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin era baru ekonomi anabul yang lebih responsible dan impactful.