
Mencapai posisi manajerial bukan berarti proses belajar selesai. Hal ini dirasakan oleh Sagung Kartika Veda Jayanti Putra, seorang Marketing Manager di salah satu perusahaan distributor alat kesehatan.
Di tengah pekerjaannya, Kartika memutuskan untuk kuliah S2 sambil kerja melalui Program S2 Manajemen UC Online Learning Batch 8 dengan peminatan Strategic Marketing Management.
Keputusan tersebut berangkat dari kebutuhan yang ia temui langsung dalam pekerjaan. Latar belakang Ilmu Komunikasi dan pengalaman di bidang marketing sudah banyak membantunya, tetapi semakin besar tanggung jawab yang dipegang, semakin luas pula pengetahuan bisnis yang perlu ia pahami.
Ketika Ilmu Komunikasi dan Marketing Mulai Terasa Belum Cukup
Sebelum melanjutkan ke jenjang magister, Kartika menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Komunikasi. Ilmu tersebut menjadi bekal yang relevan untuk pekerjaannya di bidang marketing, terutama dalam komunikasi dengan pelanggan dan aktivitas pemasaran.
Namun, pekerjaannya kemudian berkembang. Selain menjalankan fungsi marketing, Kartika juga membantu sejumlah pekerjaan kantor yang berkaitan dengan operasional.
“Selain sebagai marketing, aku juga backup beberapa pekerjaan office. Dengan pengetahuan yang basic-nya Ilmu Komunikasi dan marketing, kayaknya itu belum cukup,” ungkap Kartika.
Di posisi manajerial, ia mulai berhadapan dengan persoalan yang lebih luas dari komunikasi dan promosi. Ada proses bisnis, aktivitas operasional, perhitungan biaya, harga jual, hingga bagaimana perusahaan menghasilkan keuntungan.
“Karena itu, aku memutuskan untuk mengambil S2 lagi,” lanjutnya.
Kartika tidak meninggalkan kompetensi marketing yang sudah ia miliki. Ia justru ingin melengkapinya dengan pemahaman manajemen dan bisnis yang lebih menyeluruh.
Baca juga: Panduan Lengkap Strategi Pemasaran Produk di Era Digital
Memilih Kuliah S2 Sambil Kerja dari Bali
Fleksibilitas menjadi pertimbangan penting ketika Kartika memilih program S2. Ia ingin tetap bekerja dan tinggal di Bali tanpa harus rutin datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan.
Di UC Online Learning, perkuliahan menggunakan kombinasi pembelajaran synchronous dan asynchronous. Pertemuan synchronous dilakukan secara langsung melalui kelas online, sedangkan pembelajaran asynchronous memberi waktu kepada mahasiswa untuk mempelajari materi secara mandiri.
“Perkuliahannya ada yang asynchronous dan ada yang synchronous. Namun, kami tetap bisa kuliah dari kota masing-masing. Kebetulan aku sendiri berasal dari Bali,” jelasnya.
Bagi Kartika, sistem tersebut membuat kuliah lebih memungkinkan untuk dijalankan bersamaan dengan pekerjaan.
“Sistem ini sangat membantu aku yang tetap bekerja, tetapi ingin menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” imbuh Kartika.
Kuliah S2 sambil kerja tentu tetap membutuhkan komitmen. Ada kelas yang perlu diikuti, materi yang harus dipelajari, diskusi, serta tugas yang perlu diselesaikan.
Namun, sistem online membuat Kartika tidak perlu meninggalkan Bali untuk memperoleh pengalaman belajar di jenjang magister.
Materi S2 yang Langsung Terasa Relevan dengan Pekerjaan
Selain sistem belajar yang fleksibel, Kartika juga merasakan hubungan antara materi kuliah dan pekerjaannya sejak awal perkuliahan.
“Ternyata, sejak awal perkuliahan sudah ada mata kuliah yang relate banget dengan pekerjaanku,” tuturnya.
Beberapa mata kuliah yang menarik perhatiannya adalah Fundamental Management, Management Operation, dan Customer Behavior Analysis.
Melalui pembelajaran manajemen, ia mulai melihat bagaimana fungsi marketing berkaitan dengan bagian lain dalam sebuah perusahaan.
Marketing tidak berjalan sendiri. Keputusan pemasaran juga berkaitan dengan proses operasional, biaya, harga produk, serta keuntungan yang ingin dicapai perusahaan.
“Sebagai marketing, kita juga harus memahami perhitungannya. Kita membeli dengan harga berapa, menjualnya berapa, lalu keuntungan yang diperoleh berapa. Semua itu tetap harus dihitung,” paparnya.
Baca juga: Prospek Karir Lulusan S2 Manajemen
Marketing Manager Tidak Hanya Perlu Bisa Menjual
Pekerjaan marketing sering dikaitkan dengan komunikasi, kreativitas, promosi, dan hubungan dengan pelanggan.
Ketika tanggung jawab sudah berada di tingkat manajerial, sudut pandangnya perlu lebih luas. Seorang Marketing Manager juga perlu memahami bagaimana keputusan marketing berdampak pada bisnis.
Strategi penjualan, misalnya, tidak cukup dinilai dari keberhasilan menarik pelanggan. Perusahaan juga perlu melihat harga pembelian, harga penjualan, biaya yang muncul, serta margin yang dihasilkan.
Pemahaman tersebut membantu Kartika melihat pekerjaannya dari sisi yang berbeda. Pengalaman di kantor menjadi konteks untuk memahami materi kuliah, sementara pembelajaran manajemen memberinya cara baru untuk membaca persoalan yang ditemui dalam pekerjaan.
Customer Behavior Analysis Jadi Salah Satu Mata Kuliah Favorit
Dari sejumlah materi yang sudah dipelajari, Customer Behavior Analysis menjadi salah satu mata kuliah yang paling disukai Kartika.
“Salah satu mata kuliah favoritku saat ini adalah Customer Behavior Analysis karena kami belajar memahami perilaku pelanggan,” cerita Kartika.
Topik tersebut dekat dengan pekerjaannya sebagai Marketing Manager.
Memahami pelanggan berarti melihat lebih jauh dari siapa yang membeli produk. Seorang marketer perlu memahami kebutuhan pelanggan, pertimbangan yang mereka gunakan, hingga faktor yang memengaruhi keputusan pembelian.
“Materi tersebut benar-benar bisa aku terapkan dalam pekerjaan yang aku jalani sekarang,” tambahnya.
Bagi profesional yang sudah bekerja, hubungan antara teori dan pekerjaan seperti ini membuat proses belajar terasa lebih dekat dengan masalah yang benar-benar ditemui sehari-hari.
Dari Marketing Menuju Pemahaman Bisnis yang Lebih Luas
Kartika melanjutkan S2 Manajemen bukan karena ingin meninggalkan dunia marketing.
Ia ingin memperkuat kompetensi yang sudah dimiliki dengan pemahaman tentang operasional, pelanggan, perhitungan bisnis, serta pengelolaan perusahaan.
Perjalanan karier tidak selalu berarti harus berpindah bidang. Profesional juga dapat berkembang dengan memperdalam bidang yang ditekuni sambil menambah kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankan tanggung jawab yang lebih besar.
Bagi seorang manager, hal tersebut menjadi semakin relevan. Keputusan yang diambil sering kali melibatkan lebih dari satu fungsi dalam perusahaan.
Kartika juga merasakan dukungan dari dosen selama menjalani perkuliahan.
“Dosen-dosennya juga baik dan sangat mendukung selama proses perkuliahan,” ujarnya.
Baca juga: Karir Stagnan? Ini Strategi Level Up di Era AI dengan Kuliah Full Online
Tantangan Kuliah S2 Sambil Kerja
Menggabungkan pekerjaan dan pendidikan tetap membutuhkan pengaturan waktu.
Mahasiswa perlu membagi waktu antara aktivitas kantor, kelas, belajar mandiri, pengerjaan tugas, dan waktu istirahat.
Dalam kasus Kartika, sistem online membuat ia tetap dapat tinggal dan bekerja di Bali selama mengikuti S2 Manajemen.
Fleksibilitas tersebut tidak menghilangkan tanggung jawab sebagai mahasiswa, tetapi membantu proses belajar lebih mungkin dijalankan oleh profesional yang mempunyai pekerjaan tetap.
Apakah Harus Lulusan S1 Manajemen untuk Lanjut S2 Manajemen?
Pengalaman Kartika juga menunjukkan bahwa kebutuhan melanjutkan S2 Manajemen dapat muncul dari latar belakang pendidikan yang berbeda.
Kartika merupakan lulusan Ilmu Komunikasi yang kemudian membangun karier di bidang marketing. Setelah memegang tanggung jawab yang lebih luas, ia merasa perlu memahami operasional dan pengelolaan bisnis.
Karena itu, pertimbangan melanjutkan studi tidak semata-mata soal apakah jurusan S1 sama dengan program S2 yang dituju.
Yang juga penting adalah memahami kompetensi apa yang dibutuhkan untuk pekerjaan, karier, atau bisnis yang sedang dikembangkan.
Kuliah S2 Sambil Kerja, Siapa yang Cocok?
Kuliah S2 sambil kerja dapat dipertimbangkan oleh profesional yang ingin meningkatkan kompetensi tanpa menghentikan karier.
Kebutuhannya bisa berbeda-beda. Ada yang mulai memegang posisi manajerial, ingin memahami bisnis di luar bidang utamanya, membutuhkan perspektif baru dalam pekerjaan, atau sedang mempersiapkan diri untuk tanggung jawab yang lebih besar.
Sebelum memilih program, perhatikan juga sistem pembelajarannya. Jadwal kuliah, metode belajar, aktivitas synchronous dan asynchronous, serta cara mengakses materi perlu sesuai dengan ritme pekerjaan yang kamu jalani.
Terus Belajar Meski Sudah Menjadi Manager
Kisah Kartika memperlihatkan bahwa mencapai posisi Marketing Manager tidak membuat kebutuhan belajar berhenti.
Justru ketika tanggung jawab bertambah, ada semakin banyak bagian bisnis yang perlu dipahami. Marketing mulai bersinggungan dengan operasional, keuangan, perilaku pelanggan, hingga keputusan perusahaan secara keseluruhan.
Kartika memilih S2 Manajemen sebagai salah satu cara untuk memperluas cara pandangnya sambil tetap menjalankan pekerjaan dari Bali.
“Buat teman-teman di seluruh Indonesia, baik yang saat ini sedang bekerja atau sedang mencari kampus yang bisa memberikan kemudahan untuk sekolah lagi ke jenjang lebih tinggi, bisa banget bergabung di UC Online Learning,” pungkas Kartika.
Lanjut S2 Tanpa Harus Meninggalkan Karier
Jika saat ini kamu sudah bekerja dan mulai merasa membutuhkan pemahaman manajemen yang lebih luas, melanjutkan pendidikan tidak harus menunggu sampai karier berhenti atau jadwal benar-benar kosong.
S2 Manajemen UC Online Learning dirancang dengan sistem perkuliahan full online bagi profesional yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengikuti pembelajaran tatap muka.
Kamu dapat memperdalam kemampuan manajerial sambil tetap menjalankan pekerjaan atau bisnis yang sedang dibangun.
Pelajari lebih lanjut S2 Manajemen UC Online Learning dan konsultasikan pilihan peminatan yang sesuai dengan tujuan kariermu.
Risyad Harahap
Dr. Teofilus




