
Pengembangan koperasi modern tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kualitas pengurus, tata kelola, keberlanjutan bisnis, dan kemampuan organisasi untuk terus belajar ikut menentukan bagaimana koperasi bisa berkembang.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kompetensi pengurus koperasi sedang dipersiapkan oleh Kementerian Koperasi Republik Indonesia melalui skema magang antar-koperasi. Pengurus nantinya dapat belajar langsung di koperasi yang dinilai layak menjadi lokasi magang.
Namun, koperasi mana yang layak menjadi tempat belajar tentu tidak bisa dipilih sembarangan. Dibutuhkan instrumen yang dapat membantu menilai kesiapan organisasi, mulai dari legalitas, tata kelola, kondisi bisnis, sampai fasilitas dan kemampuan koperasi dalam mendampingi peserta magang.
Pembahasan awal mengenai hal tersebut dilakukan pada Jumat, 6 Februari 2026 dalam Rapat Pembahasan Survei Pemetaan Potensi SDM dan Daya Saing Koperasi di Hotel Salak The Heritage, Bogor. Dalam agenda tersebut, Dr. Bisma Jatmika Tisnasasmita, ST., M.M., dosen S2 Manajemen UC Online Learning, hadir sebagai akademisi untuk memberikan masukan terkait metode penilaian kelayakan koperasi magang.
Koperasi Modern Perlu Didukung Pengurus yang Kompeten
Ketika membahas koperasi modern, digitalisasi sering menjadi hal pertama yang muncul. Padahal, penggunaan aplikasi atau sistem digital hanya menjadi salah satu bagian dari pengembangan koperasi.
Koperasi tetap membutuhkan pengurus yang mampu menjalankan organisasi, membaca kondisi usaha, melibatkan anggota, mengambil keputusan, dan menjaga bisnis agar tetap berjalan dalam jangka panjang.
Kompetensi seperti ini tidak seluruhnya bisa diperoleh dari materi pelatihan di dalam kelas. Ada banyak pengalaman yang lebih mudah dipahami ketika pengurus melihat langsung bagaimana koperasi lain bekerja.
Karena itu, magang antar-koperasi dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran. Pengurus bisa mengamati praktik yang sudah berjalan, berdiskusi dengan pengelola koperasi lain, lalu membawa pembelajaran yang relevan untuk diterapkan di organisasinya sendiri.
Mengapa Koperasi Perlu Dinilai Sebelum Menjadi Lokasi Magang?
Koperasi dengan bisnis yang besar belum tentu langsung cocok menjadi lokasi magang.
Tempat magang perlu memiliki praktik organisasi yang memang layak dipelajari. Legalitas dan tata kelola harus diperhatikan, begitu juga kondisi bisnis dan kesiapan orang-orang di dalam organisasi.
Koperasi calon lokasi magang juga perlu memiliki fasilitas yang cukup untuk mendukung proses belajar. Peserta seharusnya bisa melihat proses kerja secara langsung dan mendapatkan pendampingan selama menjalani magang.
Inilah alasan Kementerian Koperasi memerlukan instrumen penilaian. Tujuannya agar pemilihan lokasi magang memiliki dasar yang lebih jelas dan tidak hanya mengandalkan penilaian umum terhadap sebuah koperasi.
Agenda resmi kegiatan pada 6 Februari 2026 mencantumkan pembahasan mengenai persiapan metode penilaian kelayakan koperasi dan identifikasi lokasi magang sebagai salah satu topik utama.
Balanced Scorecard Jadi Salah Satu Pendekatan yang Diusulkan
Dalam pembahasan tersebut, Dr. Bisma mengusulkan Balanced Scorecard sebagai salah satu kerangka awal yang dapat dipertimbangkan untuk menilai koperasi layak magang.
Namun, Balanced Scorecard tidak bisa langsung diterapkan begitu saja.
Menurut Dr. Bisma, kerangka penilaian perlu disesuaikan dengan kondisi nyata koperasi. Instrumen yang nantinya digunakan juga harus cukup mudah dipahami dan diisi oleh para pengurus.
Pendekatan ini penting karena karakter koperasi berbeda dengan perusahaan konvensional.
Karakter Bottom-Up Membuat Penilaiannya Berbeda
Koperasi memiliki karakter yang bersifat bottom-up. Anggota mempunyai posisi penting dalam kegiatan dan keberlangsungan organisasi.
Karena itu, penilaian tidak cukup hanya melihat penjualan, pendapatan, atau pertumbuhan bisnis.
Partisipasi anggota juga perlu mendapat perhatian. Salah satu contohnya adalah perkembangan iuran atau kontribusi anggota terhadap koperasi.
Keberlanjutan bisnis juga menjadi aspek penting. Koperasi yang bertumbuh perlu memiliki model usaha yang dapat dijalankan secara sehat dalam jangka panjang.
Dalam konteks koperasi modern, indikator bisnis dan indikator yang berkaitan dengan anggota perlu dibaca secara bersamaan.
Penilaian Koperasi Modern Perlu Melihat Sektor Usaha
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keragaman sektor koperasi.
Ada koperasi yang bergerak di perdagangan ritel. Ada pula yang bergerak di perikanan, pertanian, produksi, dan berbagai sektor lainnya.
Karakter bisnis masing-masing tentu berbeda.
Cara melihat perkembangan koperasi perdagangan ritel belum tentu dapat digunakan dengan parameter yang sama untuk koperasi perikanan atau pertanian.
Karena itu, Dr. Bisma mengusulkan agar sektor usaha ikut dipertimbangkan ketika parameter penilaian dikembangkan.
Tujuannya bukan sekadar menghasilkan skor. Instrumen tersebut nantinya diharapkan dapat membantu melihat apakah sebuah koperasi memang memiliki kondisi yang cukup baik untuk menjadi tempat belajar bagi pengurus koperasi lainnya.
Peran Dosen S2 Manajemen UC Online dalam Pembahasan Koperasi Modern
Dalam agenda resmi Kementerian Koperasi, Dr. Bisma tercantum sebagai akademisi pada sesi pembahasan tools atau metode penilaian kelayakan koperasi magang.
Sesi pertama berlangsung pukul 09.30 sampai 11.30 WIB. Pembahasan kemudian dilanjutkan pada pukul 13.30 sampai 14.30 WIB.
Peserta kegiatan berasal dari lingkungan Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM dan Talenta di bawah Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi, Kementerian Koperasi Republik Indonesia.
Agenda hari itu juga membahas data dan penentuan sampling koperasi dalam Survei Pemetaan Potensi SDM dan Daya Saing Koperasi.
Kontribusi Dr. Bisma pada kegiatan tersebut masih berada pada tahap pengantar menuju penyusunan sistem penilaian koperasi layak magang.
Balanced Scorecard yang dibahas merupakan salah satu pendekatan yang ia usulkan dalam diskusi. Kerangka tersebut belum menjadi instrumen final maupun metode resmi yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Koperasi.
Baca juga: Profil Dosen S2 Manajemen
Knowledge Transfer untuk Membantu Koperasi Naik Kelas
Magang antar-koperasi juga membuka ruang terjadinya knowledge transfer.
Sebagian pengetahuan organisasi memang bisa dituangkan ke dalam SOP, modul, atau dokumen kerja. Namun, banyak pengalaman pengurus yang sulit dipahami hanya dengan membaca.
Contohnya adalah cara menghadapi persoalan anggota, membangun relasi dengan mitra, membaca perubahan pasar, mengembangkan usaha, atau mengambil keputusan ketika bisnis menghadapi masalah.
Pengalaman seperti ini lebih mudah dipahami ketika peserta melihat langsung bagaimana sebuah koperasi dikelola.
Melalui program magang, pengurus dapat mempelajari praktik tersebut dari koperasi yang sudah lebih matang, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan koperasi masing-masing.
Koperasi yang sudah memiliki tata kelola dan bisnis yang baik pada akhirnya dapat ikut berperan dalam perkembangan koperasi modern lainnya melalui proses berbagi pengalaman.
Koperasi Modern Tidak Hanya Bicara Teknologi
Teknologi tetap punya peran besar dalam perkembangan koperasi modern. Digitalisasi dapat membantu administrasi, transaksi, pencatatan data, dan pelayanan anggota menjadi lebih efisien.
Tetapi teknologi tetap membutuhkan organisasi yang mampu menjalankannya.
Pengurus perlu memahami bisnis. Tata kelola harus berjalan. Anggota perlu terlibat. Koperasi juga perlu memiliki kemampuan untuk menjaga keberlangsungan usahanya.
Karena itu, peningkatan kualitas SDM menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari modernisasi koperasi.
Program magang antar-koperasi dapat membantu pengurus mendapatkan pengalaman tersebut dari organisasi yang sudah lebih siap.
Ilmu Manajemen Bertemu Persoalan Organisasi yang Nyata
Pembahasan mengenai koperasi layak magang memberi contoh bahwa sebuah kerangka manajemen tidak selalu bisa diterapkan dengan cara yang sama di setiap organisasi.
Balanced Scorecard dapat menjadi titik awal. Namun, ketika digunakan untuk membaca koperasi, ada karakter anggota, sektor bisnis, tata kelola, dan keberlanjutan organisasi yang harus ikut dipertimbangkan.
Hal seperti ini membuat pengalaman dosen di luar kelas relevan dengan pembelajaran manajemen.
Dr. Bisma Jatmika Tisnasasmita merupakan dosen S2 Manajemen UC Online Learning. Keterlibatannya dalam pembahasan bersama Kementerian Koperasi memberi contoh bagaimana ilmu manajemen digunakan untuk melihat persoalan organisasi yang sedang terjadi di lapangan.
Bagi mahasiswa, konteks seperti ini dapat memperkaya cara memahami teori. Persoalan nyata jarang datang dengan jawaban yang sudah tersedia. Ada data yang perlu dibaca, kondisi organisasi yang perlu dipahami, dan pendekatan yang harus disesuaikan.
Tertarik Memperdalam Ilmu Manajemen?
Pengembangan koperasi modern menjadi salah satu contoh bahwa keputusan manajemen membutuhkan kemampuan melihat organisasi dari banyak sisi.
Jika saat ini kamu bekerja, mengelola bisnis, atau mulai memegang tanggung jawab yang lebih besar dalam organisasi, kemampuan berpikir strategis dan manajerial dapat menjadi bekal untuk mengambil keputusan dengan lebih matang.
S2 Manajemen UC Online Learning dirancang secara full online untuk profesional yang ingin melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau bisnis yang sedang dijalankan.
Mahasiswa dapat memperdalam berbagai bidang manajemen melalui pembelajaran yang menggabungkan teori, kasus bisnis, dan perspektif dari dosen maupun praktisi.
Pelajari lebih lanjut S2 Manajemen UC Online Learning dan konsultasikan pilihan peminatan yang sesuai dengan tujuan karier atau bisnismu.
Risyad Harahap
Dr. Teofilus




